Miris, Aktivitas Ekonomi di Zona Rawan Longsor Cianjur Abaikan Peringatan Bahaya
BPBD Cianjur meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau untuk tidak berjualan atau istirahat di lokasi karena rawan longsor.
CIANJUR – Geliat aktivitas masyarakat dan pedagang informal kembali mewarnai kawasan rawan bencana di perlintasan Jalan Raya Cianjur-Puncak, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Di area yang kini dipasangi papan bertuliskan 'Cianjur Bangkit' dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tersebut, hilir mudik kendaraan dan roda ekonomi justru tampak mengabaikan potensi ancaman alam yang sewaktu-waktu bisa mengintai keselamatan.
Pantauan langsung TIMES Indonesia pada Senin (8/6/2026) nampak terlihat otoritas terkait sudah melakukan langkah preventif guna mencegah terjadinya korban jiwa di titik rawan tersebut.
Pihak BPBD Cianjur juga telah memasang tanda bahaya. Mereka meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau untuk tidak berjualan atau istirahat di lokasi karena rawan longsor.
Meski demikian, teguran visual tersebut seolah menjadi angin lalu bagi pengguna jalan maupun pelaku usaha mikro.
Berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk angkutan barang kerap terlihat menepi di bahu jalan.
Situasi keramaian ini kemudian dimanfaatkan oleh para pedagang keliling seperti penjaja kopi, bakso dan siomay untuk menggelar lapak mereka di zona berbahaya tersebut.
Salah seorang pedagang, Irwan, bukan nama sebenarnya mengaku memilih lokasi tersebut untuk mengais rezeki karena melihat adanya peluang yang menjanjikan dari para pengendara yang beristirahat.
Sementara itu, pedagang lainnya, Aceng, justru merasa kondisi geografis di sekitar perbukitan itu masih dalam batas toleransi yang wajar untuk beraktivitas.
Sikap abai ini memicu kekhawatiran mendalam mengingat wilayah eks-gempa tahun 2022 tersebut memiliki catatan sejarah kelam terkait bencana tanah longsor.
Publik tentu masih ingat bagaimana kedahsyatan alam meruntuhkan infrastruktur vital di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur tersebut.
Seperti rusaknya Warung Sate Shinta dan hilangnya Kafe Arseven yang tersapu material tanah saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 melanda wilayah Cianjur.
Sebelum lumat oleh bencana, Arseven Coffee Corner yang bertempat di koridor utama Jalan Raya Cipanas-Puncak merupakan salah satu destinasi peristirahatan favorit bagi para pelancong yang menuju arah Bogor maupun Cianjur.
Letaknya yang sangat strategis digemari sebagai tempat melepas penat sembari menikmati pemandangan alam khas pegunungan.
Namun, episentrum bencana pada akhir tahun 2022 mengubah segalanya dalam sekejap ketika seluruh bangunan kafe tertimbun lumpur padat dan menyisakan duka mendalam dengan hilangnya nyawa serta sejumlah unit usaha lain di sekitarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

