Tekan Kasus ISPA, Mahasiswa Universitas Siliwangi Luncurkan Program ‘Kujang Berseri’
Mahasiswa Universitas Siliwangi gelar program “Kujang Berseri” di Ciamis untuk menekan kasus ISPA melalui edukasi hidup bersih, pengelolaan sampah, dan pembuatan komposter mini.
CIAMIS – Dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat terus dilakukan melalui pendekatan edukasi dan pemberdayaan langsung ke akar rumput. Langkah inilah yang diambil oleh mahasiswa semester 4 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Siliwangi yang tergabung dalam kelompok Artha Wisesa.
Melalui mata kuliah Rencana dan Evaluasi Kesehatan (Renval), mereka menginisiasi program bertajuk “Kujang Berseri” di Desa Kujang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Program yang merupakan akronim dari Kujang Bersih, Sehat, dan Mandiri ini lahir dari hasil identifikasi masalah di lapangan yang menemukan tingginya angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah tersebut.
Berdasarkan pendataan menggunakan kuesioner, kasus ISPA tersebar di Kabupaten Ciamis tepatnya di lima dusun, yakni Dusun Kujang, Karangsari, Cintaharja, Cibodas, dan Cantigi.
Analisis mendalam yang dilakukan mahasiswa menggunakan metode fishbone, SWOT, dan Root Cause Analysis (RCA) menunjukkan bahwa tingginya kasus ISPA di Desa Kujang tidak terjadi secara tunggal.
Masalah ini merupakan dampak dari interaksi berbagai faktor, terutama perilaku merokok di dalam rumah, rendahnya kesadaran hidup bersih, hingga kebiasaan membakar sampah di lingkungan permukiman.
Menyikapi temuan tersebut, intervensi difokuskan pada perubahan perilaku dan perbaikan lingkungan.
Dalam kegiatan sosialisasi, dua anggota kelompok Artha Wisesa, Gina Kays Nur'azyzah dan Wardah Salsabila Aula Hidayat, memaparkan secara rinci mengenai penyebab, faktor risiko, hingga langkah pencegahan ISPA kepada warga setempat.
Edukasi ini juga diperkuat dengan kehadiran narasumber dari UPTD Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, Edwin Melana.
"Dalam sesi tersebut, warga dibekali pemahaman mengenai pengelolaan sampah organik dan anorganik yang ramah lingkungan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Selain itu, masyarakat diperkenalkan pada sistem tabungan sampah yang tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomis bagi warga.
Sebagai langkah konkret, mahasiswa juga mendemonstrasikan pembuatan komposter mini. Alat sederhana ini diharapkan menjadi solusi bagi warga untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk bermanfaat tanpa harus membakarnya.
"Melalui program berkelanjutan ini, masyarakat Desa Kujang diharapkan mampu mandiri dalam menjaga kebersihan lingkungan sehingga risiko penyakit pernapasan dapat ditekan secara signifikan," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


